https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/issue/feed Jurnal Keperawatan GSH 2026-07-31T13:06:05+07:00 Kristiana Puji Purwandari, S.Kp., M.Kes jurnal.keperawatangsh@gmail.com Open Journal Systems <p>Jurnal Keperawatan GSH adalah jurnal keperawatan untuk perawat, akademisi, dan praktisi. Jurnal Keperawatan GSH ini menerima artikel penelitian asli dan relevan di bidang keperawatan, serta studi literatur dan laporan kasus khususnya keperawatan atau kesehatan. Fokus dan scope jurnal ini adalah Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Komunitas, Keperawatan Dasar, Keperawatan Komplementer, Keperawatan Paliatif, Kesehatan, Reproduksi, Kebidanan, HIV/AIDS, Tuberculosis dan masalah kesehatan lainnya. Proses Review dilakukan dengan sistem blinded. Jurnal ini diterbitkan secara berkala pada bulan Januari dan Juli setiap tahun.</p> https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/184 ANALISIS TINGKAT KEPATUHAN TERAPI ANTIRETROVIRAL MENGGUNAKAN MORISKY MEDICATION ADHERENCE SCALE-8 PADA ODHIV 2026-07-22T11:18:24+07:00 Sri Handayani nshanda_77@yahoo.co.id <p>Kepatuhan terhadap terapi antiretroviral (ART) merupakan faktor utama dalam mencapai viral suppression, mencegah resistensi obat, serta meningkatkan kualitas hidup Orang dengan HIV (ODHIV). Salah satu instrumen yang banyak digunakan untuk mengukur kepatuhan adalah Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepatuhan terapi antiretroviral pada ODHIV menggunakan instrumen MMAS-8. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 250 ODHIV yang menjalani terapi antiretroviral minimal enam bulan di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner MMAS-8 yang terdiri atas delapan pertanyaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, rerata dan simpangan baku. Rata-rata skor MMAS-8 responden sebesar 6,84 ± 1,32 dengan rentang skor 2–8. Sebanyak 148 responden (59,2%) memiliki kepatuhan tinggi, 62 responden (24,8%) kepatuhan sedang, dan 40 responden (16,0%) kepatuhan rendah. Item MMAS-8 yang paling sering dijawab "Ya" adalah lupa minum obat ketika bepergian (34,4%) dan lupa meminum obat pada hari sebelumnya (29,6%). Mayoritas ODHIV memiliki tingkat kepatuhan terapi yang tinggi. Meskipun demikian, masih terdapat sekitar 40% responden dengan kepatuhan sedang hingga rendah yang memerlukan intervensi edukasi, konseling, serta monitoring kepatuhan secara berkala.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p>Adherence to antiretroviral therapy (ART) is a key determinant of achieving viral suppression, preventing drug resistance, and improving the quality of life of people living with HIV (PLHIV). One of the most widely used instruments for assessing medication adherence is the Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). This study aimed to analyze the level of adherence to antiretroviral therapy among PLHIV using the MMAS-8 instrument. This quantitative study employed a descriptive-analytical design with a cross-sectional approach. The study was conducted on 250 people living with HIV (PLHIV) who had been undergoing antiretroviral therapy for at least six months within the working area of ​​the Wonogiri Regency Health Office. Participants were recruited using a consecutive sampling technique. Medication adherence was assessed using the eight-item MMAS-8 questionnaire. Data were analyzed descriptively using frequency distributions, percentages, means, and standard deviations. The mean MMAS-8 score was 6.84 ± 1.32, with scores ranging from 2 to 8. A total of 148 respondents (59.2%) demonstrated high adherence, 62 respondents (24.8%) had moderate adherence, and 40 respondents (16.0%) had low adherence. The MMAS-8 items most frequently answered "Yes" were forgetting to take medication while traveling (34.4%) and forgetting to take medication on the previous day (29.6%). The findings indicate that the majority of PLHIV demonstrated a high level of adherence to antiretroviral therapy. However, approximately 40% of respondents exhibited moderate to low adherence, highlighting the need for continuous educational interventions, adherence counseling, and routine adherence monitoring to optimize treatment outcomes.</p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/189 PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR 2026-07-31T12:57:22+07:00 Dinira Safina ambaretno74@gmail.com Retno Ambarwati ambaretno74@gmail.com Y Wahyunti Kristiningtyas wahyuntie19@gmail.com <p><strong>Latar Belakang</strong>: Kekerasan seksual merupakan tindakan tidak terpuji, bisa melalui dengan perkataan maupun perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain sehingga terlibat perilaku seksual yang tidak diinginkan orang lain. Faktor individu yaitu segi psikologi pelaku dan kedua, faktor sosial yaitu mengacu pada segi sosial kebudayaan yang diikuti oleh masyarakat. <strong>Tujuan</strong>: Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan asuhan keperawatan dengan pemberian pendidikan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak usia sekolah dasar. <strong>Metode Penelitian</strong>: Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus ini dipilih bertujuan untuk melakukan pengukuran atau pengamatan secara bersamaan dengan pengetahuan dan sikap siswa dan siswi SDN 1 Eromoko tentang pengetahuan pencegahan kekerasan seksual. <strong>Hasil</strong>: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebelum diberikan pendidikan kesehatan anak memperoleh kriteria kurang dengan dengan nilai terendah 30% dan tertinggi 90%. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan maka tingkat pengetahuan meningkat dengan kategori kurang menjadi kategori baik dengan nilai terendah 80% dan nilai tertinggi 100%. <strong>Kesimpulan</strong>: Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan sangat berpengaruh untuk tingkat pengetahuan responden anak usia sekolah dasar.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: : Sexual violence is an inappropriate act, it can be through words or actions that are done by someone to another person so that they are involved in sexual behavior that is not wanted by others. Individual factors are the psychological aspects of the perpetrator and second, social factors refer to the socio-cultural aspects followed by the community. <strong>Objective</strong>: The purpose of this study is to describe nursing care by providing health education in increasing knowledge about preventing sexual violence in elementary school children. <strong>Methods</strong>: The design of this study uses quantitative research with a case study approach. This case study approach was chosen with the aim of simultaneously measuring or observing the knowledge and attitudes of students at SDN 1 Eromoko about knowledge of preventing sexual violence. <strong>Results</strong>: Based on the results of the study conducted before being given health education, children obtained criteria that were lacking with the lowest value of 30% and the highest 90%. After health education was carried out, the level of knowledge increased from the lacking category to the good category with the lowest value of 80% and the highest value of 100%. <strong>Conclusion</strong>: : It can be concluded that providing health education has a great influence on the level of knowledge of elementary school children.</em></p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/187 PENDIDIKAN NUTRISI MAKANAN CEPAT SAJI MENINGKATKAN STATUS HEMOGLOBIN DI KALANGAN REMAJA PUTRI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA: MIXED METHODS DARI PEDESAAN INDONESIA 2026-07-22T12:57:20+07:00 Putri Halimu Husna ns.haha354@gmail.com Anas Rachmad Sanjaya ns.haha354@gmail.com Y Wahyunti Kristiningtyas wahyuntie19@gmail.com <p><strong>Latar Belakang:</strong> Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di kalangan remaja putri, khususnya di daerah pedesaan Indonesia. Konsumsi makanan cepat saji yang sering, dengan kandungan zat besi dan mikronutrien yang rendah, berkontribusi pada kualitas diet yang buruk dan meningkatkan risiko anemia. Pendidikan gizi dianggap sebagai strategi yang layak untuk memperbaiki perilaku diet dan mencegah anemia di kalangan remaja. <strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan nutrisi makanan cepat saji terhadap status hemoglobin pada remaja putri sekolah menengah pertama di pedesaan Indonesia. <strong>Metode Penelitian: </strong>Penelitian metode campuran dilakukan di Dusun Nangger, Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Komponen kuantitatif menggunakan pendekatan pretest-posttest satu kelompok yang melibatkan lima remaja putri yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 20 partisipan. Kadar hemoglobin (Hb) diukur sebelum dan sesudah intervensi pendidikan gizi. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, keluhan kesehatan yang dirasakan, dan pengalaman partisipan setelah intervensi pendidikan. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan temuan kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. <strong>Hasil:</strong> Sebelum intervensi, semua peserta mengalami anemia ringan, dengan kadar Hb berkisar antara 10,5 hingga 11,4 g/dL. Setelah edukasi nutrisi, kadar Hb meningkat menjadi 12,2–14,0 g/dL, dengan peningkatan rata-rata 1,9 g/dL, yang menunjukkan normalisasi status hemoglobin. Temuan kualitatif mengungkapkan penurunan konsumsi makanan cepat saji, peningkatan kesadaran akan pola makan sehat, dan berkurangnya gejala seperti kelelahan, pusing, konsentrasi buruk, dan kantuk di siang hari. &nbsp;<strong>Kesimpulan</strong>: Pendidikan nutrisi tentang makanan cepat saji efektif meningkatkan status hemoglobin dan mendorong perilaku diet yang lebih sehat di kalangan remaja putri. Mengintegrasikan pendidikan nutrisi berbasis sekolah dan komunitas ke dalam program kesehatan remaja dapat menjadi strategi yang efektif untuk mencegah anemia di daerah pedesaan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong> <em>Iron deficiency anemia remains a major public health problem among adolescent girls, particularly in rural areas of Indonesia. Frequent consumption of fast food, characterized by low iron and micronutrient content, contributes to poor dietary quality and increases the risk of anemia. Nutrition education is considered a feasible strategy to improve dietary behavior and prevent anemia among adolescents. </em><strong><em>Goals</em></strong><em>: This study aimed to analyze the effect of fast food nutrition education on hemoglobin status among junior high school adolescent girls in rural Indonesia. &nbsp;&nbsp;<strong>Methods</strong>: A mixed methods study was conducted in Dusun Nangger, Nambangan Village, Selogiri District, Wonogiri Regency. The quantitative component employed a one-group pretest–posttest approach involving five adolescent girls selected through purposive sampling from a population of 20 participants. Hemoglobin (Hb) levels were measured before and after the nutrition education intervention. Qualitative data were collected through in-depth interviews to explore participants' fast food consumption habits, perceived health complaints, and experiences following the educational intervention. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative findings were analyzed using thematic analysis. <strong>Results</strong>: Before the intervention, all participants had mild anemia, with Hb levels ranging from 10.5 to 11.4 g/dL. Following nutrition education, Hb levels increased to 12.2–14.0 g/dL, with an average improvement of 1.9 g/dL, indicating normalization of hemoglobin status. Qualitative findings revealed decreased fast food consumption, improved awareness of healthy eating, and reduced symptoms such as fatigue, dizziness, poor concentration, and daytime sleepiness. <strong>Conclusion</strong>: Fast food nutrition education effectively improved hemoglobin status and promoted healthier dietary behaviors among adolescent girls. Integrating school- and community-based nutrition education into adolescent health programs may represent an effective strategy for preventing anemia in rural settings.</em></p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/185 HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK DENGAN TINGKAT KECEMASAN SOSIAL PADA MAHASISWA FAKULTAS KEPERAWATAN 2026-07-22T11:24:17+07:00 Kristiana Puji Purwandari kristiana.dien@gmail.com David Wijaya Khrisma Dien kristiana.dien@gmail.com <p><strong>Latar Belakang</strong>: Penggunaan media sosial TikTok yang semakin meningkat di kalangan mahasiswa dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental, salah satunya kecemasan sosial. <strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan media sosial TikTok dengan tingkat kecemasan sosial pada mahasiswa Fakultas Keperawatan. <strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 151 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi penggunaan TikTok dan kuesioner tingkat kecemasan sosial, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi. <strong>Hasil</strong>: Analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan media sosial TikTok dengan tingkat kecemasan sosial (r = 0,650; p = 0,000). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin lama durasi penggunaan TikTok, semakin tinggi tingkat kecemasan sosial pada mahasiswa. <strong>Kesimpulan</strong>: Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan media sosial TikTok dengan tingkat kecemasan sosial pada mahasiswa Fakultas Keperawatan. Mahasiswa diharapkan dapat menggunakan media sosial secara bijaksana untuk menjaga kesehatan mental.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: The increasing use of TikTok among university students may have an impact on mental health, one of which is social anxiety. <strong>Objective</strong>: This study aimed to determine the relationship between the duration of TikTok use and the level of social anxiety among students of the Faculty of Nursing. <strong>Methods</strong>: This study employed a quantitative descriptive correlational design with a cross-sectional approach. A total of 151 students were selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected using a TikTok usage duration questionnaire and a social anxiety questionnaire and were analyzed using a correlation test. <strong>Results</strong>: The analysis revealed a significant relationship between the duration of TikTok use and the level of social anxiety (r = 0.650; p = 0.000). The findings indicate that a longer duration of TikTok use is associated with higher levels of social anxiety among students. <strong>Conclusion</strong>: There is a significant relationship between the duration of TikTok use and the level of social anxiety among students of the Faculty of Nursing. Students are encouraged to use social media wisely to maintain their mental health.</em></p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/179 HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI PADA IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS PADANG SELASA PALEMBANG 2026-06-15T11:44:02+07:00 Wahyuningsih Wahyuningsih wahyueub2019@gmail.com Ranti Agustina wahyueub2019@gmail.com Novi Ekajayanti Pande Putu wahyueub2019@gmail.com Kadek Widiantari wahyueub2019@gmail.com Winarsih wahyueub2019@gmail.com <p><strong>Latar Belakang:</strong> Pemberian ASI sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kesehatan anak, karena merupakan sumber gizi yang aman, alami, bergizi, dan berkelanjutan. Berdasarkan penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), (2023), angka ibu pemberian ASI di Indonesia sudah tinggi, yaitu 76%, namun yang memberikan secara eksklusif selama 6 bulan masih rendah sebesar 20%. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu degan keberhasian pemberian ASI pada ibu menyusui. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain <em>analitik korelasional</em> dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu menyusui yang mempunyai bayi 7-24 bulan dan sampel sebanyak 42 responden dilakukan dengan teknik <em>accidental sampling</em>. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner. Data analisis menggunakan uji <em>Chi Square</em>. <strong>Hasil:</strong> Sebagian besar usia ibu (20-35 tahun) sebanyak 28 ibu (66.7%), mayoritas ibu dengan paritas primipara sebanyak 28 ibu (66.7%), pendidikan ibu (SMA) sebanyak 23 ibu (54.8%), dan ibu yang tidak bekerja sebanyak 37 ibu (88.1%).Pengetahuan ibu kurang sebanyak 32 responden (76,2%), mayoritas responden tidak ASI sebanyak 36 responden (85,7%). Hasil<em> chi square </em>diperoleh nilai <em>p</em> <em>value</em> adalah 0,007&lt; 0,05. <strong>Simpulan:</strong> Ada hubungan pengetahuan ibu dengan keberhasian pemberian ASI di Puskesmas Padang Selasa Palembang.</p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Breastfeeding is crucial for a child's survival and health, as it is a safe, natural, nutritious, and sustainable source of nutrition</em> <em>According to a study by the Indonesian Pediatricians Association (IDAI) (2023), the rate of breastfeeding among mothers in Indonesia is already high, at 76%, but the rate of exclusive breastfeeding for 6 months remains low, at 20%.</em> <strong><em>Objective:</em></strong><em> This study aimed to determine the relationship between maternal knowledge and breastfeeding success at the Padang Selasa Community Health Center.</em> <strong><em>Method:</em></strong><em> This study used a correlational analytical design with a cross-sectional approach. The population was all breastfeeding mothers with infants aged 7-24 months, and a sample of 42 respondents was selected using an accidental sampling technique. Primary data were obtained from questionnaires. Data analysis using the Chi Square test.</em> <strong><em>Results:</em></strong><em> The majority of mothers were 20-35 years old (28 mothers (66.7%), the majority were primiparous (28 mothers (66.7%), had a high school education (23 mothers (54.8%), and 37 mothers (88.1%) were unemployed. Thirty-two respondents (76.2%) had insufficient knowledge, and the majority (36 respondents (85.7%) did not breastfeed. The chi-square test showed a p-value of 0.007 &lt; 0.05.</em> <strong><em>Conclusion:</em></strong><em> There is a relationship between maternal knowledge and successful breastfeeding at the Puskesmas Padang Selasa Palembang</em></p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/190 PENGARUH BUERGER ALLEN EXERCISE TERHADAP NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX PADA LANSIA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS KARANGGEDE BOYOLALI 2026-07-31T13:06:05+07:00 Yenny Dwi Herawati herayenny6@gmail.com Dewi Kartika Sari herayenny6@gmail.com <p><strong>Latar belakang: </strong><em>Diabetes Melitus</em> (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme yang dapat menimbulkan komplikasi vaskular, termasuk penurunan perfusi perifer. Salah satu metode pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi gangguan vaskular adalah <em>Ankle Brachial Index</em> (ABI). Nilai ABI yang rendah menunjukkan adanya risiko iskemia dan ulkus kaki diabetik. Intervensi non-farmakologis seperti <strong><em>Buerger Allen Exercise</em> (BAE)</strong> diketahui mampu memperbaiki aliran darah perifer melalui mekanisme <em>muscle pump</em> dan perubahan gravitasi. <strong>Tujuan: </strong>Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh BAE terhadap nilai ABI pada lansia penderita DM di Puskesmas Karanggede Boyolali. Desain penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dengan pendekatan <em>pre–post test</em>. Sampel berjumlah 54 responden lansia penderita DM tipe II yang dipilih dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Nilai ABI diukur sebelum dan sesudah intervensi BAE, kemudian dianalisis menggunakan uji <em>Wilcoxon Signed Rank Test</em>. <strong>Hasil penelitian</strong>: menunjukkan rata-rata nilai ABI sebelum intervensi <strong>0,976 (SD 0,3560)</strong> dan sesudah intervensi meningkat menjadi <strong>1,046 (SD 0,1891)</strong>. Uji <em>Wilcoxon</em> menghasilkan nilai Z= -2,041 dengan <em>p</em>= 0,041 (&lt;0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara nilai ABI sebelum dan sesudah intervensi. <strong>Kesimpulan: </strong>hasil analisis menunjukkan nilai p&lt;0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian, <strong>BAE berpengaruh signifikan terhadap peningkatan nilai ABI pada lansia penderita <em>Diabetes Melitus</em> tipe II</strong>.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background: </em></strong><em>Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease characterized by hyperglycemia and metabolic disturbances that can lead to vascular complications, including reduced peripheral perfusion. The Ankle-Brachial Index (ABI) is a diagnostic method used to detect vascular impairment. A low ABI value indicates a risk of ischemia and diabetic foot ulcers. Non-pharmacological interventions, such as Buerger-Allen Exercise (BAE), are known to improve peripheral blood flow through muscle pump mechanisms and gravitational changes<strong>. Objective: </strong>This study aimed to determine the effect of BAE on ABI values ​​in elderly patients with DM at the Karanggede Community Health Center (Puskesmas) in Boyolali.<strong> Research Design: </strong>A quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach was employed. The sample consisted of 54 elderly respondents with Type II DM, selected using purposive sampling. ABI values ​​were measured before and after the BAE intervention and analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test.<strong> Results: </strong>The mean ABI value was 0.976 (SD 0.3560) prior to the intervention and increased to 1.046 (SD 0.1891) following the intervention. The Wilcoxon test yielded a Z-value of -2.041 with a p-value of 0.041 (&lt;0.05), indicating a significant difference between pre- and post-intervention ABI values.<strong> Conclusion: </strong>The analysis showed a p-value &lt;0.05; thus, the alternative hypothesis (Ha) was accepted, and the null hypothesis (Ho) was rejected. Consequently, BAE has a significant effect on increasing ABI values ​​in elderly patients with Type II Diabetes Mellitus.</em></p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/188 PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUSIK TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA SAMBONG 2026-07-31T12:49:27+07:00 Naiyla Chairunnisa cnisa139@gmail.com Susana Nurtanti susan.alkuina@gmail.com Retno Ambarwati ambaretno74@gmail.com <p><strong>Latar Belakang</strong>: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami oleh lansia dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Seiring bertambahnya usia, perubahan fisiologis berupa penurunan elastisitas pembuluh darah meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Selain berdampak pada kondisi fisik, hipertensi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, salah satunya kecemasan. Kecemasan yang tidak segera ditangani dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis sehingga meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah serta memperburuk kondisi kesehatan lansia. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan memiliki efek relaksasi, salah satunya adalah terapi musik. <strong>Tujuan</strong>: Mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi di Desa Sambong. <strong>Metode Penelitian</strong>: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain pre– post test. Sampel penelitian berjumlah lima responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah pemberian terapi musik. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan skor kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. <strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami penurunan skor kecemasan setelah diberikan terapi musik. Sebelum intervensi, tiga responden mengalami kecemasan ringan dan dua responden mengalami kecemasan sedang. Setelah pemberian terapi musik, terjadi penurunan skor HARS pada seluruh responden yang menunjukkan adanya perbaikan tingkat kecemasan. <strong>Kesimpulan</strong>: Terapi musik berpengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk membantu meningkatkan kenyamanan psikologis dan kualitas hidup lansia.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> hipertensi, lansia, terapi musik, kecemasan, HARS</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Hypertension is one of the most common non-communicable diseases among older adults and remains a leading cause of morbidity and mortality worldwide. As individuals age, physiological changes, particularly reduced vascular elasticity, increase the risk of developing hypertension. In addition to its physical effects, hypertension may also affect psychological well-being, particularly by increasing anxiety levels. Untreated anxiety can stimulate the sympathetic nervous system, leading to increased heart rate and blood ,pressure, which may worsen the health condition of older adults. Therefore, safe, practical, and effective non-pharmacological interventions are needed to help reduce anxiety. One such intervention is music therapy, which has been shown to promote relaxation and improve psychological well-being. <strong>Objective</strong>: To determine the effect of music therapy on anxiety levels among older adults with hypertension in Sambong Village. <strong>Methods</strong>: This study employed a qualitative approach using a pre–post test design. Five participants were selected through purposive sampling based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Anxiety levels were assessed before and after the intervention using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The data were analyzed descriptively by comparing anxiety scores before and after the administration of music therapy. <strong>Results</strong>: The findings showed that all participants experienced a reduction in anxiety scores after receiving music therapy. Prior to the intervention, three participants had mild anxiety and two had moderate anxiety. Following the intervention, all participants demonstrated lower HARS scores, indicating an improvement in their anxiety levels. <strong>Conclusion</strong>: Music therapy has a positive effect on reducing anxiety levels among older adults with hypertension. It can be considered an effective non-pharmacological nursing intervention to improve psychological comfort and enhance the quality of life of older adults with hypertension.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: hypertension, elderly, music therapy, anxiety, HARS</em></p> <p><strong>Latar Belakang</strong>: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami oleh lansia dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Seiring bertambahnya usia, perubahan fisiologis berupa penurunan elastisitas pembuluh darah meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Selain berdampak pada kondisi fisik, hipertensi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, salah satunya kecemasan. Kecemasan yang tidak segera ditangani dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis sehingga meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah serta memperburuk kondisi kesehatan lansia. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan memiliki efek relaksasi, salah satunya adalah terapi musik. <strong>Tujuan</strong>: Mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi di Desa Sambong. <strong>Metode Penelitian</strong>: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain pre– post test. Sampel penelitian berjumlah lima responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) sebelum dan sesudah pemberian terapi musik. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan skor kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. <strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami penurunan skor kecemasan setelah diberikan terapi musik. Sebelum intervensi, tiga responden mengalami kecemasan ringan dan dua responden mengalami kecemasan sedang. Setelah pemberian terapi musik, terjadi penurunan skor HARS pada seluruh responden yang menunjukkan adanya perbaikan tingkat kecemasan. <strong>Kesimpulan</strong>: Terapi musik berpengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pada lansia penderita hipertensi sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk membantu meningkatkan kenyamanan psikologis dan kualitas hidup lansia.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Hypertension is one of the most common non-communicable diseases among older adults and remains a leading cause of morbidity and mortality worldwide. As individuals age, physiological changes, particularly reduced vascular elasticity, increase the risk of developing hypertension. In addition to its physical effects, hypertension may also affect psychological well-being, particularly by increasing anxiety levels. Untreated anxiety can stimulate the sympathetic nervous system, leading to increased heart rate and blood ,pressure, which may worsen the health condition of older adults. Therefore, safe, practical, and effective non-pharmacological interventions are needed to help reduce anxiety. One such intervention is music therapy, which has been shown to promote relaxation and improve psychological well-being. <strong>Objective</strong>: To determine the effect of music therapy on anxiety levels among older adults with hypertension in Sambong Village. <strong>Methods</strong>: This study employed a qualitative approach using a pre–post test design. Five participants were selected through purposive sampling based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Anxiety levels were assessed before and after the intervention using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The data were analyzed descriptively by comparing anxiety scores before and after the administration of music therapy. <strong>Results</strong>: The findings showed that all participants experienced a reduction in anxiety scores after receiving music therapy. Prior to the intervention, three participants had mild anxiety and two had moderate anxiety. Following the intervention, all participants demonstrated lower HARS scores, indicating an improvement in their anxiety levels. <strong>Conclusion</strong>: Music therapy has a positive effect on reducing anxiety levels among older adults with hypertension. It can be considered an effective non-pharmacological nursing intervention to improve psychological comfort and enhance the quality of life of older adults with hypertension.</em></p> <p>&nbsp;</p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH https://jurnal.akpergshwng.ac.id/index.php/kep/article/view/186 PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL PADA PENDERITA HIPERKOLESTEROLEMIA DI DESA PIJIHARJO KECAMATAN MANYARAN 2026-07-22T11:39:30+07:00 Nugroho Priyo Handono nphands.emperor123@gmail.com Mona Muntasa Muktiadi nphands.emperor123@gmail.com <p><strong>Latar Belakang:</strong> Hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi peningkatan kadar kolesterol dalam darah di atas batas normal yang menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Salah satu manifestasi klinis yang sering dikeluhkan adalah kaku pada kepala bagian belakang, tengkuk, serta badan pegal akibat gangguan perfusi perifer. Penatalaksanaan non farmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol adalah pemberian air rebusan daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) yang kaya akan kandungan flavonoid dan antioksidan. <strong>Tujuan:</strong> untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian rebusan daun kelor dalam menurunkan kadar kolesterol pada pasien hiperkolesterolemia.</p> <p><strong>Metode:</strong> penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan <em>case study research</em> . <strong>Hasil:</strong> dari ke 5 responden mengalami penurunan kadar kolesterol dengan rata rata penurunan kolesterol sebanyak 19 mg/dl. <strong>Kesimpulan: </strong>hasil dari pemberian rebusan daun kelor kepada 5 responden di dapatkan data masing masing responden mengalami penurunan kolesterol, sehingga didapatkan kesimpulan bahwa daun kelor efektif menurunkan kolesterol pada pasien hiperkolesterolemia.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Hypercholesterolemia is a condition characterized by an increase in blood cholesterol levels above normal limits, serving as a major risk factor for cardiovascular diseases. One of the frequently reported clinical manifestations is stiffness in the back of the head and neck, as well as body aches caused by ineffective peripheral perfusion. A non-pharmacological management that can be utilized to reduce cholesterol levels is the administration of Moringa leaf (Moringa oleifera) decoction, which is rich in flavonoids and antioxidants. <strong>Objective:</strong> To identify the effect of giving Moringa leaf decoction on reducing cholesterol levels in hypercholesterolemia patients. <strong>Methods:</strong> this study uses a qualitative method with a case study research approach. <strong>Results: </strong>All 5 respondents experienced a decrease in cholesterol levels, with an average cholesterol reduction of 19 mg/dl.</em></p> <p><strong><em>Conclusion:</em></strong> <em>The results of administering Moringa leaf decoction to the 5 respondents demonstrated that each respondent experienced a reduction in cholesterol. Thus, it can be concluded that Moringa leaves are effective in lowering cholesterol levels in hypercholesterolemia patients.</em></p> 2026-07-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan GSH