PENDIDIKAN NUTRISI MAKANAN CEPAT SAJI MENINGKATKAN STATUS HEMOGLOBIN DI KALANGAN REMAJA PUTRI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA: MIXED METHODS DARI PEDESAAN INDONESIA

FAST FOOD NUTRITION EDUCATION IMPROVES HEMOGLOBIN STATUS AMONG JUNIOR HIGH SCHOOL ADOLESCENT GIRLS: A MIXED METHODS STUDY FROM RURAL INDONESIA

Penulis

  • Putri Halimu Husna Akper Giri Satria Husada
  • Anas Rachmad Sanjaya Akper Giri Satria Husada
  • Y Wahyunti Kristiningtyas Akper Giri Satria Husada

DOI:

https://doi.org/10.56840/jkgsh.v15i2.187

Kata Kunci:

Remaja putri; anemia; makanan cepat saji; hemoglobin; metode campuran; pendidikan gizi; pedesaan Indonesia., adolescent girls; anemia; fast food; hemoglobin; mixed methods; nutrition education; rural Indonesia.

Abstrak

Latar Belakang: Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di kalangan remaja putri, khususnya di daerah pedesaan Indonesia. Konsumsi makanan cepat saji yang sering, dengan kandungan zat besi dan mikronutrien yang rendah, berkontribusi pada kualitas diet yang buruk dan meningkatkan risiko anemia. Pendidikan gizi dianggap sebagai strategi yang layak untuk memperbaiki perilaku diet dan mencegah anemia di kalangan remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan nutrisi makanan cepat saji terhadap status hemoglobin pada remaja putri sekolah menengah pertama di pedesaan Indonesia. Metode Penelitian: Penelitian metode campuran dilakukan di Dusun Nangger, Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Komponen kuantitatif menggunakan pendekatan pretest-posttest satu kelompok yang melibatkan lima remaja putri yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 20 partisipan. Kadar hemoglobin (Hb) diukur sebelum dan sesudah intervensi pendidikan gizi. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, keluhan kesehatan yang dirasakan, dan pengalaman partisipan setelah intervensi pendidikan. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan temuan kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil: Sebelum intervensi, semua peserta mengalami anemia ringan, dengan kadar Hb berkisar antara 10,5 hingga 11,4 g/dL. Setelah edukasi nutrisi, kadar Hb meningkat menjadi 12,2–14,0 g/dL, dengan peningkatan rata-rata 1,9 g/dL, yang menunjukkan normalisasi status hemoglobin. Temuan kualitatif mengungkapkan penurunan konsumsi makanan cepat saji, peningkatan kesadaran akan pola makan sehat, dan berkurangnya gejala seperti kelelahan, pusing, konsentrasi buruk, dan kantuk di siang hari.  Kesimpulan: Pendidikan nutrisi tentang makanan cepat saji efektif meningkatkan status hemoglobin dan mendorong perilaku diet yang lebih sehat di kalangan remaja putri. Mengintegrasikan pendidikan nutrisi berbasis sekolah dan komunitas ke dalam program kesehatan remaja dapat menjadi strategi yang efektif untuk mencegah anemia di daerah pedesaan.

 

ABSTRACT

Background: Iron deficiency anemia remains a major public health problem among adolescent girls, particularly in rural areas of Indonesia. Frequent consumption of fast food, characterized by low iron and micronutrient content, contributes to poor dietary quality and increases the risk of anemia. Nutrition education is considered a feasible strategy to improve dietary behavior and prevent anemia among adolescents. Goals: This study aimed to analyze the effect of fast food nutrition education on hemoglobin status among junior high school adolescent girls in rural Indonesia.   Methods: A mixed methods study was conducted in Dusun Nangger, Nambangan Village, Selogiri District, Wonogiri Regency. The quantitative component employed a one-group pretest–posttest approach involving five adolescent girls selected through purposive sampling from a population of 20 participants. Hemoglobin (Hb) levels were measured before and after the nutrition education intervention. Qualitative data were collected through in-depth interviews to explore participants' fast food consumption habits, perceived health complaints, and experiences following the educational intervention. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative findings were analyzed using thematic analysis. Results: Before the intervention, all participants had mild anemia, with Hb levels ranging from 10.5 to 11.4 g/dL. Following nutrition education, Hb levels increased to 12.2–14.0 g/dL, with an average improvement of 1.9 g/dL, indicating normalization of hemoglobin status. Qualitative findings revealed decreased fast food consumption, improved awareness of healthy eating, and reduced symptoms such as fatigue, dizziness, poor concentration, and daytime sleepiness. Conclusion: Fast food nutrition education effectively improved hemoglobin status and promoted healthier dietary behaviors among adolescent girls. Integrating school- and community-based nutrition education into adolescent health programs may represent an effective strategy for preventing anemia in rural settings.

Diterbitkan

2026-07-20

Terbitan

Bagian

Articles